@thesis{thesis, author={Ramadhonah Yuri Ristianti}, title ={PERENCANAAN LINGKUNGAN KAMPUNG PULO SEBAGAI BAGIAN UPAYA REVITALISASI SUNGAI CILIWUNG DI DKI JAKARTA}, year={2018}, url={http://repository.bakrie.ac.id/1325/}, abstract={Urbanisasi memicu peningkatan alih fungsi lahan di perkotaan. Seiring dengan bertambahnya penduduk dan meningkatnya kebutuhan tempat tinggal, masyarakat cenderung menggunakan ruang yang masih tersisa seperti bantaran dan badan sungai yang tidak diperuntukan untuk bangunan permukiman. Hal tersebut memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan ekosistem sungai, serta menyebabkan perubahan fungsi sungai di perkotaan, salah satunya adalah Sungai Ciliwung yang mengaliri wilayah Kampung Pulo. Pemerintah berupaya menangani kerusakan lingkungan pada bantaran sungai melalui program revitalisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tahapan proses revitalisasi sungai, kondisi biofisik sungai sebelum dan sesudah penggusuran, penerimaan masyarakat terhadap penggunaan lahan baru, hambatan dan faktor pendorong proses revitalisasi sungai, dan membuat penerapan rencana lansekap Sungai Ciliwung yang mengaliri wilayah Kampung Pulo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dan dibantu metode kuantitatif deskriptif dalam menganalisis data-data kuantitatif. Hasil penelitian ini adalah pada tahapan revitalisasi sungai, Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan upaya intervensi fisik. Pada kondisi biofisik Sungai Ciliwung sebelum dan sesudah penggusuran terdapat perbedaan yaitu penurunan luasan daerah genangan banjir. Berdasarkan penelitian, sebanyak 62% masyarakat Kampung Pulo menerima keadaan Kampung Pulo pada lahan yang baru. Namun ditemukan hambatan dan faktor pendorong dalam proses revitalisasi Sungai Ciliwung, yaitu janji penggantian lahan tergusur dari pemerintah, penempatan rusunawa secara gratis, serta demo dan aksi massa saat penggusuran. Selain hambatan, ditemukan pula faktor pendorong yaitu pelebaran Sungai Ciliwung, normalisasi Sungai Ciliwung, dan pembuatan akses jalan yang baru. Terdapat model yang dapat diterapkan dalam rencana lansekap di daerah penelitian dengan mengacu pada variabel-variabel pembebasan permukiman warga di bantaran sungai, pembersihan daerah permukiman yang sudah dibebaskan, penghijauan di daerah yang sudah terkena normalisasi, dan pengamanan terhadap lahan yang baru. Model penelitian ini dapat diterapkan di daerah lain dengan menggunakan variabel yang sama, disertai asumsi daerah tersebut memiliki morfologi sungai yang sama, wilayah perkotaan, wilayah permukiman kumuh, dan wilayah yang padat penduduk.} }