DETAIL DOCUMENT
Konsep Pendewasaan Ritus Yoye Ngi’i Masyarakat Oja dalam Perbandingan dengan Sakramen Krisma
Total View This Week10
Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
SELE, Vinsensius
Subject
BR Christianity 
Datestamp
2020-11-20 07:58:10 
Abstract :
Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang selalu berelasi dan berkomunikasi, baik secara horizontal dengan sesamanya maupun secara vertikal dengan Tuhan. Dalam kehidupan ini, ada pelbagai macam sarana yang bisa digunakan untuk membangun komunikasi dan interaksi yang baik. Sarana-sarana tersebut antara lain kebudayaan dan agama. Agama dan kebudayaan memang merupakan dua entitas yang berbeda, tetapi saling berkaitan satu dengan yang lain. Agama, yang dalam hal ini misalnya Gereja, tidak dapat hidup tanpa kebudayaan. Gereja harus bekerja sama dan berdialog dengan kebudayaan untuk mewujudkan cinta Tuhan. Lagipula, Gereja sendiri sudah menyadari bahwa nilai-nilai ketuhanan sudah ada dan hidup dalam kebudayaan. Kehadiran Konsili Vatikan II membawa arah segar bagi Gereja. Melalui Konsili Vatikan II, Gereja telah membuka diri terhadap kebudayaan dan agama-agama lain. Gereja menyadari bahwa di dalam kebudayaan dan agama-agama lain terdapat juga nilai-nilai baik dan suci yang mengatur kebaikan hidup bersama demi mewujudkan kepenuhan hidup. Kepenuhan hidup ini menghantarkan manusia untuk lebih bersatu dengan Allah. Gereja hendaknya bersifat positif terhadap kebudayaan masyarakat setempat sehingga karya pewartaan yang bersifat Injili dapat diwartakan dan dihudupi. Oleh karenanya, Gereja harus berdialog dengan kebudayaan masyarakat setempat. Salah satu budaya yang dapat membangun dialog dengan Gereja dalam masyarakat Oja ialah ritus yoye ngi’i. Ritus yoye ngi’i merupakan salah satu upacara inisiasi yang mendewasaakan seorang anak perempuan dalam masyarakat adat. Di samping itu, ritus ini juga meresmikan dan mengukuhkan seorang anak perempuan untuk menerima segala hak dan kewajibannya sebagai masyarakat budaya. Senada dengan praktik budaya yang dihidupi dalam masyarakat Oja, Gereja juga memiliki ritus inisiasi bagi seorang anggota Gereja. Salah satu ritus inisiasi dalam Gereja ialah Sakramen Krisma. Sakramen Krisma ini menjadi tanda resmi bahwa seorang anggota Gereja telah diinisiasikan ke dalam keanggotaan Gereja yang dewasa secara iman. Dalam kedewasaan iman tersebut, seorang anggota gereja mampu mengemban tugas dan tanggung jawab serta konsekuensi yang diterimanya dalam Sakramen Krisma. Pada esensinya konsep dasar dari kedua upacara tersebut ialah mendewasakan seseorang baik secara iman maupun secara adat. Di samping itu, pelaksanaan kedua upacara ini juga bertujuan untuk memasukkan, menerima, dan mengukuhkan seseorang ke dalam kelompoknya masing-masing. Bertolak dari pemahaman akan kesamaan makna, tujuan dan konsep dari kedua upacara tersebut, maka dapatlah dibuat perbandingan dari keduanya. Perbandingan tersebut membantu masyarakat Oja untuk mengerti, melihat, merasa, meraba dan mendalami apa itu upacara penerimaan Sakramen Krisma. Proses perbandingan yang dibuat ini untuk melihat kemungkinana untuk diinkulturasikan ritus yoye ngi’i ke dalam Sakramen Krisma sehingga membentuk liturgi penerimaan krisma yang inkulturatif. Unsur-unsur yang sama hendaknya menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya sedangkan perbedaan tidak menjadi penghambat karena perbedaan tersebut tidak bertentangan dengan ritus Romawi. 
Institution Info

INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO