Abstract :
Tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur merupakan suatu perbuatan
persetubuhan dengan cara paksa terhadap anak adapun dengan menggunakan cara
tipu muslihat, demi pemenuhan hasrat seksualnya.Tindak pidana pemerkosaan
anak dibawah umur yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya mengalami
peningkatan. Masalah ini terkadang di anggap sebagai masalah kecil apabila di
bandingkan dengan tindak pidana lainnya seperti korupsi, pembunuhan. Rumusan
dari pemasalahan ini adalah : 1) Bagaimana pelaksanaan Undang-Undang No. 23
tahun 2002 tentang Perlindungan anak sampai putusan No. 262/PfD.B/20 I 0/PN .TNG ?
2) Bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan No.
262/PID.B/2010/PN.TNG? Metode penelitian adalah metode hukum normatif, metode
hukum normatif yaitu metode penelitian hukum atas asas-asas, perbandingan hukum,
faktor-faktor atau unsur-unsur yang terkait dengan penegakan hukum tindak pidana
pemerkosaan anak di bawah umur. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
putusan pengadilan No. 262/PID.B/2010/PN.TNG menggunakan undang-undang No. 23
tahun 2002 tentang Perlindungan anak dan terdakwa dijerat pasal pemerkosaan anak di
bawah umur yaitu pasal 81 yang ancamannya paling singkat 3 tahun dan paling lama 15
tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit
Rp. 60.000.000 (enam puluh juta rupiah). Pada putusan No. 262/PID.B/201 0/PN.TNG
hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 3 tahun dan
pidana denda sebesar Rp. 60.000.000 (enam puuh juta rupiah) dengan ketentuan apabila
pidana denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama I bulan.
Belum sesuai, bahwa putusan yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri Tangerang
No.262/PlD.B/20 I 0/PN TNG khususnya kepada saksi korban Zulliany Iskandar yang
masih berusia 14 tahun. Tidak hanya luka fisik saja dan rasa traumatis yang mendalam
dihati korban Zulliany Iskandar, tetapi juga pupusnya harapan korban Zulliany Iskandar
yang menderita trauma berkepanjangan karena masa depannya hancur akibat perbuatan
terdakwa Meningkatkan mentalitas, moralitas serta keimanan dan ketaqwaan pada
diri sendiri yang bertujuan untuk pengendalian diri yang kuat sehingga tidak
mudah tergoda untuk melakukan sesuatu yang tidak baik, dan juga untuk
mencegah agar dapat menghindari pikiran dan niat yang kurang baik di dalam hati
serta pikirannya.