DETAIL DOCUMENT
Implementasi Program Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) di Kabupaten Brebes(Studi Kasus di Kecamatan Bantarkawung)
Total View This Week0
Institusion
Universitas Jenderal Soedirman
Author
MARISTA, Brigetsa Dwi
Subject
E69 Education 
Datestamp
2021-11-19 08:15:32 
Abstract :
Program Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) di Kabupaten Brebes dilatarbelakangi jumlah anak tidak sekolah yang banyak di Kabupaten Brebes sehingga mengakibatkan rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah. Upaya meningkatkan IPM khususnya dibidang pendidikan, salah satunya melalui pengembalian anak tidak sekolah kembali bersekolah melalui program GKB. Kecamatan Bantarkawung merupakan salah satu wilayah yang mengimplementasikan program GKB. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan kesulitan yang dialami oleh aktor pelaksana untuk mengembalikan anak tidak sekolah supaya kembali bersekolah. Hal ini dikarenakan masyarakat Kecamatan Bantarkawung mayoritas tergolong kurang mampu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi program Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) di Kecamatan Bantarkawung berdasarkan perspektif What?s Happening yang merupakan teori dari Ripley dan Franklin. Metode penelitian digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pemilihan informan berdasarkan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis alir. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi program Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) di Kecamatan Bantarkawung berdasarkan perspektif What?s Happening yang dikemukakan oleh Ripley dan Franklin belum berjalan optimal. Berikut hasil penelitian berdasarkan aspek kajian dalam perspektif What?s Happening: 1) Aktor yang terlibat, ditemukan bahwa peran aktor serta tugas pokok dan fungsi dari Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Tingkat Kecamatan belum optimal. 2) Kejelasan tujuan, program GKB mempunyai tujuan yang jelas namun tujuan program belum dapat tercapai. 3) Perkembangan dan kerumitan program, kesulitan untuk membujuk anak tidak sekolah supaya kembali ke sekolah karena berbagai alasan seperti kekurangan ekonomi, kemampuan individu dan lingkungan pergaulan anak, keterbatasan sumber daya anggaran dari pemerintah kabupaten, serta komunikasi dan koordinasi antar aktor pelaksana belum berjalan efektif. 4) Faktor yang memengaruhi, kondisi ekonomi keluarga yang lemah menyebabkan kurangnya perhatian keluarga (orang tua) terhadap kebutuhan sekolah anak, kurangnya motivasi sekolah dari orang tua dan anak tidak sekolah, serta komunikasi dan koordinasi dengan kelompok sasaran program belum berjalan efektif. Kata kunci: Implementasi kebijakan, Program Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) 
Institution Info

Universitas Jenderal Soedirman