DETAIL DOCUMENT
ANALISIS EMISI ULTRA LOW FREQUENCY (ULF) DAN ANOMALI TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) SEBAGAI PREKURSOR GEMPA BUMI DI SUMATERA PERIODE 2019 – 2020
Total View This Week0
Institusion
Universitas Andalas
Author
M, Hamidi
Subject
QC Physics 
Datestamp
2022-02-11 02:50:47 
Abstract :
Pengamatan prekursor gempa bumi sangat penting untuk prediksi jangka pendek gempa. Dalam tugas akhir ini telah dilakukan analisis prekursor gempa bumi di Sumatera periode 2019 ? 2020 berdasarkan emisi ULF (Ultra Low Frequency) dan anomali TEC (Total Electron Content). Keterkaitan emisi ULF dan anomali TEC sebagai prekursor gempa bumi di Sumatera diteliti menggunakan data geomagnetik yang terekam oleh MAGDAS (Magnetik Acquisition Data System) dan data GPS dari stasiun SuGAr (Sumatran GPS Array). Data gempa diseleksi berdasarkan persamaan zona persiapan gempa ?=?10?^0.43M km. Anomali ULF diidentifikasi menggunakan nilai polarisasi power ratio komponen Z dan komponen H yang melewati batas standar deviasi (p+z, p-z) dan teknik Singgle Station Function Transfer (STTF) berdasarkan azimuth anomali ULF yang mengarah ke episenter gempa. Anomali TEC diidentifikasi menggunakan teknik auto korelasi berdasarkan nilai simpangan koefisien korelasi (skk) terhadap deviasi simpangan koefisien korelasi (dskk). Anomali TEC yang diduga memiliki korelasi dengan anomali ULF ditandai oleh nilai skk/dskk < -1 yang terjadi bertepatan dengan terjadinya anomali ULF prekursor. Indeks Disturbance Time Indeks (Dst) digunakan untuk memastikan emisi ULF dan anomali TEC bukan disebabkan oleh aktivitas badai geomagnet. Dari 29 gempa yang diteliti terdapat 15 (lima belas) gempa yang hanya didahului oleh emisi ULF prekursor, 10 (sepuluh) gempa yang memiliki emisi ULF dan TEC prekursor, dan 4 (empat) gempa yang tidak terdeteksi kemunculan prekursor. Lead time emisi ULF memiliki korelasi positif (+) terhadap lead time anomali TEC dengan nilai koefisien korelasi (0,60 < R < 0,79). Selain itu, frekuensi kemunculan emisi ULF dan anomali TEC memiliki tren korelasi positif (+) dengan magnitudo gempa. Semakin sering kemunculan emisi ULF dan anomali TEC prekursor maka semakin besar kemungkinan magnitudo gempa yang akan terjadi. Namun, hubungan antara magnitudo terhadap frekuensi kemunculan anomali ULF dan TEC prekursor bervariasi dari koefisien korelasi lemah hingga kuat (0,00 < R < 0,79). 
Institution Info

Universitas Andalas